Tuntutan ekonomi telah memaksa orang untuk berpikir dan berbuat kreatif untuk melanjutkan roda kehidupan, di tengah pertumbuhan pariwisata bali, beraneka ragam jenis usaha berkembang pesat. Hal ini tentu berdampak positif , tetapi kalau perbuatan kreatif yg sudah menyalahi aturan bahkan dapat merusak kesakralan dan kewibawaan pulau bali maka tindakan ini harus diwaspadai dan antisipasi.
Sebagai Forum yg peduli dan ingin menjaga Bali, Forum Pro Bali membentangkan sepanduk dibawah ini untuk menggugah semangat Generasi muda Bali agar ikut menjaga Bali
ITN TV BALI
ITN TV BALI, seiring perjalan Pariwisata Bali yang berkembang pesat , Namun tidak demikian yang dirasakan masyarakat secara umum, terbukti masyarakat buleleng yang memiliki Objek Wisata yang sangat banyak, seperti Danau, Air Terjun, Pantai dan bukit belum mampu mengantarkan masyarakatnya untuk Hidup sebagai daerah pariwisata. Terbukti sebagian masyarakat buleleng usia produktif harus merantau ke luar daerah untuk mencari kerja di tengah gemerlapnya Pariwisata Bali
ITN TV Bali adalah TV yg akan secara khusus meliput Pariwisata, sehingga diharapkan potensi wisata yang dimiliki daerah bisa diinformasikan sebagai sarana promosi sehingga nantinya bisa menarik Wisatawan untuk berkunjung ke buleleng, ataupun daerah lainnya yang diharapkan diikuti pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
Forum Pro Bali adalah sebuah forum masyarakat bali yang menyambut antosias dan sangat mendukung program yang di tawarkan ITN TV.
Carlton J. Smith Live Band Performance,
Rabu 31 Maret 2010 dan 3 April 2010
Tempat SOS (Anantara Hotel Bali)
***************************************************************************
JANGAN BIARKAN ADAT MENGUBUR NILAI AGAMA
Ya vedavahyah smrtayo
Yasca kasca kudrstayah
Sarvasta nisphala pretya
Tamo nistha hitah smrtah.
(Manawa Dharmasastra.XI.95).
Maksudnya:
Semua tafsir dan semua sistem tattwa yang rendah (kudrsta) yang tidak berdasarkan kitab suci Veda tidak akan membawa pahala mulia karena didasarkan pada kegelapan (guna tamah).
Dalam sloka Manawa Dharmasastra ini ada dinyatakan istilah kudrsta, artinya tradisi yang bertentangan dengan pandangan kitab suci Veda. Jadinya ada adat yang berdasarkan pandangan kitab suci yang disebut Sastra Drsta dan ada adat yang bertentangan dengan pandangan kitab suci yang disebut Kudrsta.
Syair-syaiur Veda Sruti disebut Mantra. Mantra Veda Sruti itu bersifat Prabhu Samhita, artinya kumpulan syair suci yang penuh wibawa. Karena penuh wibawa masyarakat awam tidak mudah menjangkaunya. Karena itu, para Resi menyusun Itihasa dan Purana sebagai tangga untuk mendaki kesucian Veda. Syair-syair Itihasa dan Purana lebih mudah memahaminya sehingga disebut Suhrita Samhita.
Nilai-nilai Veda yang dimuat dalam Itihasa dan Purana itulah yang harus ditradisikan. Jadinya kebenaran Veda itulah yang harus diadatkan. Hal ini dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra dengan istilah Sadacara.
Proses membangun tradisi Veda dalam Sarasamuscaya disebut dengan istilah Vedabsyasa dan Dharma Abyasa. Artinya membiasakan ajaran Veda dan Dharma dalam perilaku sehari-hari. Sadacara berasal dari kata Sat atau Satya artinya kebenaran Veda. Kata acara artinya tradisi atau perilaku mulia yang langgeng dalam mengamalkan ajaran suci.
Wrehaspati Tattwa 25 menyatakan: Sila ngarania mangaraksa acara rahayu. Sila artinya memelihara adat yang benar dan baik. Dalam Sarasamuscaya 177 ada dinyatakan, Acara ngaraning prawrtti kawarah ring aji. Artinya, acara adalah pengamalan ajaran kitab suci.
Jadinya adat itu seharusnya menjadi alat atau media untuk mengamalkan ajaran kitab suci, sehingga menjadi kebiasaan hidup sampai menjadi adat. Karena kurang paham dalam memelihara adat-istiadat itu akhirnya adat itulah yang dilanggengkan. Agar adat itu langgeng menjadi media mentradisikan ajaran suci agama maka adat itu harus berubah-ubah secara dinamis.
Ajaran suci Veda itu Sanatana Dharma, artinya kebenaran abadi. Sedangkan penerapannya harus Nutana Dharma artinya terus mengalami peremajaan. Untuk meremajakan adat-istiadat harus terus-menerus diadakan dinamika menurut ajaran Tri Kona. Ajaran Tri Kona itu harus ada proses Utpati yaitu penciptaan adat yang baru sesuai dengan kebutuhan zaman. Sthiti artinya melindungi dan memelihara adat-istiadat yang berdasarkan kitab suci dan masih sesuai dengan kebutuhan zaman.
Pralina artinya meninggalkan adat-istiadat yang sudah usang tidak sesuai dengan kebutuhan zaman dan bertentangan dengan ajaran suci. Kenyataan sekarang sangat sulit menghilangkan adat-istiadat yang bertentangan dengan agama dan sudah jauh ketinggalan zaman. Misalnya menyelenggarakan upacara yadnya yang bersifat asmita atau suka pamer dan arogan. Padahal kitab suci mengajarkan upacara yang Satvika atau yang berkualitas adalah salah satu syaratnya yang na asmita, artinya tidak arogan.
Kata upacara dalam bahasa Sansekerta artinya mendekatkan. Tidak mungkin akan membawa umat saling mendekatkan dirinya kalau upacara itu ada unsur yang sangat diskriminatif dan ditampilkan sangat arogan. Demikian juga dalam hal mengatur adat agama ada sementara aparat adat yang sewenang-wenang dan menggunakan adat suryak siu. Dengan demikian banyak adat yang diterapkan itu mematikan demokrasi.
Menghukum anggota krama yang salah menggunakan hukum matsya niyaya yaitu hukum ikan siapa yang kuat dia yang menang. Padahal, manusia itu bukan ikan. Manusia harus memenangkan yang benar dan menghukum yang salah secara adil dan mendidik agar yang salah itu sadar dan kembali pada jalan yang benar. Menghukum krama yang salah dengan cara yang salah akan menimbulkan dendam berkepanjangan. Bahkan, ada pakar yang berani menyatakan di media elektronik di Bali adat sudah mirip dengan penjajah. Dalam adat kalau ada orang sudah dikatakan salah dengan cara-cara suryak siu mereka kehilangan kemerdekaannya untuk membela dirinya dan mendapatkan perlakuan yang adil.
Dalam Manawa Dharmasastra VII.19 dan 24 menyatakan vonis yang dijatuhkan kepada tersangka tanpa pertimbangan yang adil akan menghancurkan segala-galanya. Semua golongan akan kacau, semua larangan akan dilanggar dan semua manusia akan bermusuhan satu dengan yang lainnya. Hal itu terjadi sebagai akibat dari kesalahan menjatuhkan hukuman (vonis) kepada tersangka.
Bali tidak akan ajeg kalau adat-istiadat yang digerakkan dengan kecenderungan asura (asuri sampad). Swami Satya Narayana menyatakan adat-istiadat yang berdasarkan kitab suci itu adalah salah satu ibu kita yang disebut dengan Desa Mata. Desa artinya suatu norma suci yang berlaku di suatu tempat dan mata artinya ibu atau mother dalam bahasa Inggrisnya. Karena itu, marilah kita terus mengkreasi tradisi itu agar jangan basi.
Upaya mengkreasi tradisi itu untuk menajamkan penerapan visi kitab suci. Visi kitab suci yang ditradisikan dengan semangat kreasi yang tinggi akan membawa hidup ini penuh imajinasi dengan berbagai variasi yang penuh isi bergisi suci.
* I Ketut Gobyah
sumber: www.balipost.com
***************************************************************************Z*
Biaya Upacara, dari Ekonomi |
| Ritual ke Ekonomi Spiritual? |
Judul : Biaya Upacara Manusia Bali
Penulis : Made Sukarsa
Tebal : i-xiv, 69 halaman
Penerbit : Arti Foundation, Denpasar
Tahun : 2009
---
AGAMA Hindu yang dianut oleh sekitar 95% jumlah penduduk Bali memiliki tujuan hidup untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin. Ketiga tujuan itu diwujudkan melalui pelaksanaan tiga kerangka kehidupan, yaitu tattwa atau filsafat, susila atau etika dan upacara atau yadnya. Pelaksanaan upacara keagamaan merupakan hilir dari tattwa agama yang ada di hulu dan etika agama yang berada di tengah atau madya. Jika salah satu dari ketiga kerangka itu diabaikan, maka akan terjadi ketidakseimbangan pada sistem agama.
Kenyataan yang ada, pelaksanaan upacara hingga kini masih mendominasi kehidupan keseharian orang Bali. Bahkan sering disebut orang Bali adalah manusia upacara. Orang Bali mengupacarai tidak saja dirinya sendiri, tetapi juga orang lain, lingkungan, alam, pohon, ternak, dan benda-benda mati. Sesaji dan pertunjukan kesenian dalam berbagai upacara menyebabkan Bali meriah, penuh suka cita, dan berbinar-binar. Untuk itu uang dan materi melimpah harus dikeluarkan, waktu dan tenaga mesti dikorbankan (hal. viii).
Selama setahun (420 hari) terdapat 108 hari untuk upacara dewa yadnya secara rutin. Kalau ditambah dengan pelaksanaan upacara yang tidak rutin, seperti peresmian pembangunan pura, peringatan hari lahir (piodalan), manusa yadnya dan lain-lain, maka alokasi waktu, tenaga dan biaya yang diperlukan akan bertambah banyak. Untuk pelaksanaan upacara di Kabupaten Gianyar saja, misalnya bisa menghabiskan sebanyak sepertiga (33,3%) dari pendapatan keluarga. Dalam setahun bahan-bahan untuk keperluan upacara seperti bunga diproyeksikan sebanyak 3.000 ton, janur dan daun enau 5.521 ton, kelapa 1.824 ton (hal. 55-56).
Persoalan yang sering mengemuka adalah bagaimana menyederhanakan upacara yang megah dan meriah itu. Apakah tidak lantas seperti dikhawatirkan oleh beberapa pihak dan akan bisa menghilangkan adat dan budaya agama Hindu di Bali. Berkait dengan biaya upacara manusia Bali lalu pertanyaan yang lebih mendasar lagi, bagaimana menjadikan ekonomi ritual menjadi ekonomi spiritual?
Tidak Mengikat
Sejatinya Bhagavad Gita IX.26 telah menyebutkan, "patram puspam phalam toyamyo me bhaktya prayacchati tad aham bhakty-upahrtam asnami prayatatmanah, siapa saja yang sujud kepada-Mu dengan persembahan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, seteguk air dengan rasa bakti, Aku akan menerimanya". Tampak bahwa pada dasarnya persembahan kepada Tuhan tidaklah mengikat. Persyaratan yang harus dimiliki adalah rasa cinta bhakti yang tulus kepada-Nya dan dengan media persembahan hanya berupa daun, bunga, buah dan air saja Hyang Widhi sudah menerimanya.
Menariknya, dalam buku yang semula merupakan disertasi ini juga banyak dikaji persoalan seputar ekonomi ritual itu, khususnya tentang pola konsumsi ritual masyarakat Bali. Dari kajian itu hendak diungkapkan bagaimana bentuk dan fungsi konsumsi ritual serta jenis variabel yang memengaruhi konsumsi ritual tersebut serta komponen-komponen ritualnya.
Dari hasil pembahasan yang dilakukan menyiratkan banyak hal bisa dipelajari dari kebiasaan orang Bali ketika bergiat dalam upacara. Ada kajian filosofi, moral, tingkah laku, pertumbuhan ekonomi, penggunaan pendapatan, sampai dengan pemahaman orang Bali tentang kesejahteraan dan keseimbangan hidup.
Biaya upacara manusia Bali ternyata tidak bisa dilepaskan dari segi pendapatan keluarga Bali Hindu. Made Sukarsa, penulis buku yang juga rektor Universitas Warmadewa ini antara lain menemukan terdapat pengaruh positif langsung pendapatan keluarga terhadap pelaksanaan upacara. Banyak atau sedikitnya pendapatan keluarga memengaruhi besar-kecilnya pengeluaran upacara.
Pendapatan keluarga tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap pelaksanaan susila. Hal ini berarti besar-kecilnya pendapatan keluarga tidak berpengaruh terhadap kegiatan menghadiri undangan adat, gotong-royong, dan frekuensi denda seseorang di banjar. Tidak ada pengaruh langsung tattwa terhadap pelaksanaan upacara, namun secara tidak langsung melalui susila mempunyai efek negatif terhadap pelaksanaan upacara (hal. 60-61).
Pengaruh Dominan
Satu hal yang menjadi pesan buku ini adalah dalam melakukan kebijakan yang berhubungan dengan fenomena sosial, perlu diperhatikan pola pendapatan masyarakat. Hal ini karena pola pendapatan masyarakat berpengaruh dominan dan langsung terhadap pengeluaran upacara dan pemahaman serta pelaksanaan tattwa atau filsafat agama. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengadakan buku-buku agama, konservasi lontar yang ada seiring dengan kenaikan pendapatan keluarga Bali Hindu.
Terlepas dari beberapa kesalahan teknis penulisan kata dan juga pemuatan (secara tak sengaja) "iklan" minuman botol dan roti pada salah satu gambar halaman, buku ini sangat bermanfaat tidak hanya bagi penekun agama, tetapi juga kalangan akademisi, pengambil kebijakan dan masyarakat luas.
Penulis bukunya sebagai penerima Anugerah Widya Pataka sudah bekerja keras untuk memberikan perspektif baru, betapa upacara yang dilakukan oleh orang Bali berdampak pada sendi-sendi utama kehidupan sehari-hari. Pemahaman tentang makna upacara itu menjadikan arah dan pergeseran pada perilaku manusia Bali dari pelaku ekonomi ritual ke ekonomi spiritual.
* wayan gede suacana,
dosen di Unwar
dan Unhi Denpasar
|
********************************************************************
Gubernur Bali:
Umat Hindu di Bali Berkurang 10 %
Dalam 10 tahun terak-hir ini, jumlah umat Hindu di Bali sudah berkurang sebanyak 10 %.” Demikian dikatakan oleh Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, ketika memberi sambutan pada pembukaan Pesamuhan Agung Parisada, pada hari Minggu 18 Oktober 2009, bertempat di Jayasaba (kantor Gubernur Bali).
Gubernur juga me-ngatakan telah terjadi perubahan nilai-nilai dalam masyarakat Bali, yang kalau tidak ditangani bisa membahayakan eksistensi Bali. Tak ketinggalan, Gubernur juga menyoroti perihal upacara-upacara yang memerlukan biaya besar. Terkait dengan hal-hal tersebut Gubernur ”menantang” PHDI untuk masukannya. Dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Bali, yang akan dipakai membentengi keputusan-keputusan, bhisama-bhisama yang dikeluarkan oleh PHDI, merupakan bagian penting. Gubernur juga meminta kepada anggota DPR, DPD terpilih pada Pemilu 2009 untuk ikut memperjuangkan agama Hindu agar mendapat porsi yang seimbang dengan agama lainya.
Pesamuhan Agung Parisada tahun 2009 ini dihadiri oleh Parisada Propinsi seluruh Indonesia, Sabha Pandita, Sabha Walaka, Pengurus Harian, dan Lembaga-lembaga keagamaan yang bernafaskan Hindu skala Nasional. Tampak ha-dir utusan-utusan umat agama lain, seperti dari Keuskupan, Walubi, anggota DPR RI, anggota DPD Bali hasil Pemilu 2009.
Comments :
Tingkatkan kualitas pemahaman hindu
written by mertamupu, January 03, 2010
PENYEBABNYA ADALAH ??
written by cokbin, hindu lama-lama hilang karena : 1. Bali terlalu mementingkan Upacara dan Upakara, 2. Banten berlebihan tanpa tau maknanya, 3. Teori dan filsafat Hindu belum merasuki jiwa anak muda Bali, 4. Egonya masih tinggi
Hindu bukan hanya ada di Bali, jd jangan terlalu berkiblat ke bali. toh juga bali adalah pindahan dari jawa di jaman majapahit dulu
Nym Agung Sariawan,SH
Comen : Permasalahan Krama Bali Sangat Pelik terkait dengan adat di satu sisi adat itu mendukung proses agama hindu , namun disisi lain banyak permasalahan adat yang menyangkut krama bali yang beragama Hindu menjadi hambatan untuk kemajuan .Hal tersebut dapat dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari bilamana orang yang sekali saja tidak mengikuti kegiatan adat sering mendapat pembicaraan yang tidak sedap.Kalau masyarakat bali yang beragama hindu tidak berfikir fleksible cepat atau lambat orang hindu akan lari dari agamanya. sebab adat sebagai beban hidup untuk mencapai kemajuan, namun sebaliknya bila adat bersifat lues dan memaknai nilai-nilai filosofis adat yang berkaitan dengan agama, Hindu akan Jaya selamanya. sebab Kebenaran tidak pernah mencari pengikut, tapi pengikutlah yang mencari kebenaran.
Komang Yasa
coment: Tingkatkan Peran Parisadha dari tingkat paling bawah, dan perhatikan juga kesejahtraan mereka, terutama perhatian dari Pemerintah Bali toh juga kemajuan pariwisata di bali tidak terlepas dari budaya hindu itu sendiri. Hindu Agama Tertua dan Terlengkap, Banggalah Menjadi Hindu.
Bagaimana Coment anda??
kirim comentar anda ke info@forumprobali.org
*****************************************************************************
"HINDU AGAMA TERBESAR DI DUNIA"
Umat Hindu memang suka mengkonsumsi sesuatu wacana
yang kontroversial. Barangkali kesimpulan ini yang bisa ditarik sejak pertama kali diluncurkannya buku lepas yang berjudul “Hindu Agama Terbesar di Dunia”. Berangkat dari antusiasme umat untuk membeli buku ini dan karena isinya yang cukup sering diperbincangkan, PHDI Bekasi, Banjar Bekasi, Media Hindu dan PD KMHDI Jakarta berinisiatif menggelar bedah buku dengan menghadirkan langsung sang editor, Ngakan Putu Putra, SH. Bertempat di Pura Bekasi pada hari Minggu 17 April 2004, hadir dua orang pembedah yaitu Ir. Made Astana, MM, dan Drs Made Supartha, MHum, sementara yang bertindak sebagai moderator adalah I Made Budi Arsika.
Ketika memaparkan isi buku di awal acara, Ngakan Putu Putra menyampaikan beberapa alasan mengapa pilihan judul yang diambil begitu kontroversial. “Sebenarnya fokus daripada buku ini adalah pengalaman dari beberapa orang yang baru menganut Hindu yang menuai berbagai kelebihan-kelebihan Hindu dibandingkan dengan agama-agama yang mereka anut sebelumnya” Ir. Made Astana, MM yang menganalisa buku ini dari perspektif historis-peradaban menyatakan bahwa kebangkitan Hindu harus dimulai dari kesadaran bahwa Hindu merupakan ajaran yang luhur yang penting untuk ditekuni dan lebih diperdalam, sehingga implementasi oleh umatnya akan mewarnai setiap peradaban. “Terbukti, hanya peradaban Hindu yang hingga saat ini masih bertahan.
Tentu satu hal ini dapat mewakili betapa Hindu itu sendiri memang besar” papar professional bisnis yang juga staf pengajar ini. Begitu juga dengan pembedah kedua, Drs. Made Supartha, MHum yang tampak begitu bersemangat ketika menguraikan arti penting kebanggaan menjadi seorang pemeluk Hindu “Saat ini benar-benar diperlukan suntikan moral bagi jatidiri kita yang telah keropos oleh ketidakberdayaan kita menghadapi agresivitas lingkungan. Dan, buku ini menjadi salah satu penawar bagi krisis keyakinan yang kita alami bersama” kata Dosen Fakultas Ilmu budaya Universitas Indonesia ini.
Beberapa audiens tampak bersemangat untuk memberi komentar baik terhadap isi buku maupun hasil bedah buku yang disampaikan para pembedah. Seakan tidak menerima rasionalisasi penggunaan judul yang telah disampaikan editor di awal pemaparan, para audiens tetap menganggap judul ini terlalu melebih-lebihkan kenyataan. Seperti lontaran pernyataan yang disampaikan oleh Indra Prameswara, “Saya khawatir judul buku ini hanya membesarkan hati saja, sebab kenyataannya belum tentu demikian. Namun menurut saya kebesaran Hindu adalah ketika menerima ajaran agama lain ” Begitu juga dengan pernyataan Putu Gede Sutha Legawa, Ketua DPP Pemuda Hindu, “Haruskah Hindu besar dengan pembanding, padahal eksistensi Hindu selama ini adalah karena ajarannya yang mulia yang bisa dipahami dan diterima oleh kalangan luas tanpa tersekat-sekat” Pertanyaan ini diafirmasi oleh Made Supartha dengan pernyataan bahwa kebesaran Hindu memang bisa diukur dengan perangkat-perangkat material, namun hukum termodinamik yang tidak semata-mata bisa dipahami dengan egoisme agama dan kebudayaan terkadang ikut mempengaruhi suhu dalam dinamika relasi antar umat beragama.
Sedemikian hangatnya suasana, sehingga diskusi tidak hanya terjadi pada editor dan pembedah dengan audiens yang hadir, akan tetapi diantara pesertapun saling menanggapi argumen masing-masing. Seperti pernyataan Mangku Danu yang melihat adanya kecenderungan yang justru kontradiktif “Buku ini seolah-olah menempatkan kita untuk berpikir negatif terhadap ajaran agama lain, padahal Hindu sendiri mengakui kebenaran semua ajaran agama”. Ida Bagus Supriyadi kemudian mengomentari bahwa perlu dipisahkan antara konteks vertikal dan horizontal. Secara vertikal, Hindu terbuka bagi ajaran-ajaran Ke-Tuhanan lainnya, sehingga kita memang tidak perlu memandang negative ajaran-ajaran lain. Namun secara horizontal realitas memperlihatkan tantangan yang serius bagi penganut Hindu “Kita tidak menutup mata terhadap pernyataan salah seorang tokoh sentral agama lain yang menganjurkan konversi terhadap umat Hindu di India yang kemudian melahirkan gerakan revolusioner di kalangan umat Hindunya”. kata salah seorang pejabat Departemen Agama RI ini.
Pertanyaan yang bertubi-tubi tentang isi buku yang diarahkan kepada Ngakan Putu Putra dalam kapasitas sebagai editor menyebabkannya berkali-kali harus mengklarifikasi bahwa dirinya hanya sebagai penerjemah dan editor dari lima penulisnya, yaitu Stephen Knapp, Yadnavalkya Dasa, David Frewley, Satguru Sivaya Subramuniyaswami dan Klaus K. Klostermaier. Bahkan beliau cukup serius menyatakan pendapatnya ketika salah seorang audiens menyampaikan kekhawatirannya terhadap kemungkinan protes dari umat lain “Penting saya sampaikan apabila tulisan-tulisan ini sudah dipublikasi secara luas di Amerika, jadi sekurang-kurangnya sudah memenuhi standar pengakuan masyarakat di sana. Saya tidak begitu khawatir terhadap protes dari luar, sebab ketika buku ini dicetak di percetakan milik seorang umat Katolik pun dia mendukung penerbitan buku ini. Sebagai suatu wacana, mengapa kita harus takut menyampaikan ini ke masyarakat luas ??”
Di akhir acara yang ditutup oleh Ketua Banjar Bekasi, Bapak Putu Suarsana, dilakukan pemberian buku “Hindu Agama Terbesar di Dunia” kepada seluruh penanggap yang telah berpartisipasi dalam bedah buku ini. Secara terpisah, Rani Hapsari, Ketua PD KMHDI Jakarta, menyatakan rasa puasnya terhadap pelaksanaan kegiatan ini. “Sekurang-kurangnya, kita ngga’ lagi ragu mengaku Hindu !!! ujar mahasiswi Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini. (Dpa/Bmr)
****************************************************************************
PENERAPAN AGAMA HINDU DI JAMAN KALIYUGA
Jaman Kaliyuga adalah jaman dimana keadaan tidak menentu, kacau atau tidak harmonis, bingung, Pada saat yang sama penerapan ajaran agama mendapat porsi yang sangat sedikit, demikian disampaikan oleh Pedanda Gunung dalam ceramahnya di Ruang Serbaguna PT. ISM Bogasari Flour Mills.
Pada Kepustakaan Lontar Rogha Sanghara Bumi pada lampiran I B, dalam terjemahan disebutkan jaman Kaliyuga ditandai dengan peristiwa dimana para DEWA meninggalkan bumi dengan digantikan oleh para BHUTA menguasai bumi ini dan pada saat itu dunia mengalami kerancuan, ketidak harmonisan, malapetaka dan arah yang tidak menentu.
Periode berlangsungnya/Kapan, berapa lama setiap jaman berlangsung? Pembagian jaman secara valid tidak diketahui batasnya dengan pasti. Yang perlu mendapat perhatian dalam kehidupan di dunia ini adalah bahwa kondisi pada pengaruh ke empat jaman terutama jaman Kali senantiasa ada, dan seberapa porsi pengaruh pada diri manusia tergantung pada perilaku manusia itu sendiri karena manusia merupakan pelaku utama terhadap keadaan harmoni maupun disharmoni-pada diri manusia terdapat sifat DEWA maupun KALA .
BHAKTI / Kasih Sayang yang Murni kepada Tuhan (SIWA). Hal ini dapat dilakukan dengan mengucapkan/mengumandangkan nama suci Tuhan antara lain dengan menyebutkan nama aksara sucinya “Om Namah Siwaya” diucapkan melalui lahir bhatin secara berulang - ulang, Rasa Bhakti ini tidak hanya dilakukan ketika berada di Pura, tetapi dapat dilaksanakan pada tempat lainnya setiap saat.
TRESNA : Sikap bersahabat dengan orang lain/Kasih Sayang.
ASIH : Bersikap Welas Asih pada semua makhiuk, hal ini dapat dilakukan dengan cara berperilaku yang baik, bahwa pada prisipwa kita tidak beda dengan yang lainnya . Hal ini ditegaskan dalam Veda yang dinyatakan dalam satu kalimat sutra yaitu ; Wasudewa Kutumbhakam : Semua mahluk berasal dari satu sumber yaitu Tuhan (Vasudeva) ; Semua mahkluk adalah saudara .
Dalam kepustakaan lontar Agastya Parwa disebutkan tiga bentuk prilaku untuk mewujudkan harmoni di jagat raya ini serta jalan menuju nirvana (sorga) antara lain :
TAPA : Melakukan pengendalain diri baik fisik maupun mental.
YAJNA : Melaksanakan Agnihotra yang utama , yaitu pemujaan kehadapan Sanghyang Siwagni (Tuhan Yang Maha Esa)
KERTHI : Melaksanakan pelayanan yang direalisasikan dalam bentuk membangun tempat pengobatan (apotik,kKlinik dan rumah sakit), membangun tempat suci/pura/candi/, tempat peristirahatan, mengeloia tanah dengan baik/bercocok tanam (bertani), mengelola air minum dan kepentingan pengairan(pancuran) dan membuat penyimpanan air, kolam, waduk, bendungan (telaga). AA. Ketut Patera,SE.
sumber: mediahindu.net
**************************************************************************** |